Menilik Tradisi Korupsi di FIFA

shares

kotabontang.net - HINGGA saat ini, nama Blatter masih aman. Dia belum disebut sebagai tersangka pascapenggerebekan dan penangkapan tujuh petinggi FIFA di Zurich. Blatter bahkan diperkirakan tetap memenangi kembali pemilihan presiden dalam kongres FIFA yang dimulai Kamis (28/5). Tapi, penyelidikan masih terus berlangsung dan segala kemungkinan tetap bisa terjadi.

Apalagi, Daily Mail melansir, tujuh orang itu ditangkap di sebuah kamar di Hotel Baur au Lac, Zurich. Dan, ketika ditangkap, diduga mereka tengah mengonsolidasikan dukungan kepada Blatter dalam ajang pemilihan orang nomor satu di FIFA. Blatter akan berhadapan dengan Pangeran Ali bin Hussein dari Jordania.

Kejaksaan Agung Swiss menyatakan, penangkapan itu dilakukan atas kerja sama dengan Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS), dalam hal ini FBI. Selain tujuh orang tersebut, Departemen Kehakiman AS menetapkan tujuh orang lain sebagai tersangka dalam kasus pencucian uang, pemerasan, serta penggelapan.

Ketujuh orang yang ditangkap di Zurich adalah Jeffrey Webb, Eduardo Li, Julio Rocha, Costas Takkas, Eugenio Figueredo, Rafael Esquivel, dan José Maria Marin. Total uang yang dikantongi para tersangka mencapai USD 150 juta (hampir Rp 2 triliun).

Angka itu didapat setelah Departemen Kehakiman AS, dalam hal ini FBI sebagai ujung tombak, melakukan penyelidikan sejak tiga tahun lalu. Yang diselidiki meliputi berbagai event sepak bola yang digelar FIFA di Amerika Serikat dan Amerika Latin mulai 1991.

’’Para tersangka telah mengembangkan budaya korupsi dan keserakahan yang mengakibatkan ketidakadilan di olahraga terpopuler di dunia ini. Pembayaran ilegal dan tidak transparan, komisi, serta penyuapan menjadi cara FIFA berbisnis,’’ kata Direktur FBI James Comey dalam jumpa pers kemarin seperti dikutip CNN.

Jaksa Agung AS Loretta E. Lynch pun tak kalah keras dengan menyatakan bahwa korupsi yang terjadi di FIFA telah sangat akut. ’’Ini (korupsi) telah tumbuh merajalela, sistemis, serta mengakar kuat, baik di luar negeri maupun di sini, Amerika Serikat,’’ ujarnya seperti dilansir New York Times.

Nah, di luar AS, Kejaksaan Agung Swiss juga melakukan penyelidikan sendiri dalam kasus dugaan korupsi terkait dengan pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022 yang dimenangi Rusia dan Qatar. Aparat hukum setempat telah menggeledah markas besar FIFA di Zurich dan menyita berbagai data elektronik.

Sebanyak 23 orang yang jadi anggota executive committee (exco) FIFA saat kedua negara itu terpilih juga akan dimintai keterangan. ’’Kami bekerja sama dengan AS semata demi prosedur penanganan kejahatan dan mencegah kolusi.’’ Demikian bunyi pernyataan resmi Kejaksaan Agung Swiss.

Investigasi oleh AS maupun Swiss tidak atau belum menyebut Blatter sebagai tersangka. Tapi, Blatter beberapa waktu lalu sempat dikabarkan menghindari masuk AS karena khawatir ditangkap.

Luis Figo ketika menyatakan mundur dari pencalonan presiden FIFA menyebut organisasi yang dipimpin Blatter itu sebagai diktator. Figo juga menyebut proses pemilihan selama ini sengaja direkayasa untuk menguntungkan sang incumbent.

Related Posts